Skip to main content

Posts

Dua sembilan bulan bubu

Hari-hari di bulan Mei dan Juni ini adalah hari yang menggembirakan bunda. Bubu semakin cerewet dan semakin asik diajak ngobrol. Dia sudah tahu namanya sendiri. Namanya adalah neng, ima chan, dan tentu saja nabila. Dia juga tahu nama bunda dan babanya, juga adiknya. Bunda ita, dede atka, dan baba jayaini. Hehe... Kemarin ia loncat-loncat di ayunanan, dan dd terjatuh karenanya. Dd kesakitan dan menangis. Bubu berulangkali minta maaf sama adiknya. "Dede, maat. Maat dede..."

Bubu dan kakak-kakaknya

Bubu anak pertama, tapi punya kakak banyak... Resiko dan manfaat (hehe...) tinggal di negeri asing jauh dari sanak saudara adalah pasukan harus selalu dibawa kala komandan berpergian. Apalagi saat jendral besar sedang bertugas.

Dua delapan bulan Bubu

Bubu masih mungil, tapi semakin pandai. Dia sudah mulai bisa membedakan belum dan sudah. Misalnya saat bunda apakah bertanya bubu sudah mandi? Maka ia bisa menjawab sudah atau belum sesuai dengan kenyataan... Kalau sebelumnya ia sering frustasi karena beberapa permintaannya kurang dimengerti, kini ia bisa menyatakan keinginannnya dengan lebih spesifik. Misalnya minta minum, apakah air, susu, atau jus. Bukan lagi sekedar menggeram menunjuk-nunjuk kulkas. Atau saat ia ingin susu yang dihangatkan di kompor dengan tambahan gula merah (ini susu favorit, mengenang susu di kampung dulu...) ia akan menunjuk ke kompor setelah bunda mengeluarkan kotak susu dari kulkas. Bubu juga sudah bisa mengganti popok sendiri. Masalahnya kadang popok itu belum kotor/ penuh, sudah ia ganti ...lol. Ohya, bubu selain mengaji juga semakin suka berdendang. Tapi selain lagu-lagu yang mirip senandung bunda, sebagian besar lagu-lagu bubu belum tertebak.

Puzzle 41 [Kencan Pagi]

Walau bagaimana, kehadiran dua mahluk mungil dalam kehidupan mereka, membuat waktu-waktu pribadi menjadi agak terbatas. Baik itu waktu untuk berbicara dari hati ke hati, belajar bersama, dll. Maka jika ada waktu khusus berdua, ia akan menjadi waktu yang istimewa. Seperti kencan bada subuh, setelah sholat berjamaah dkk, kala anak-anak masih tertidur. Menikmati sarapan sederhana dengan susu atau teh hangat. Mengobrol, membahas tafsir atau buku lain, belajar bahasa arab, murajaah hapalan, dll. Atau seperti pagi ini: duduk bersebalahan berbagi meja. Perempuan dan laptop mengurusi bisnis majalah sambil nge-blog dan e-mail, sementara lelaki dan komputer menelusuri berita di berbagai situs ditemani teh manis yang sudah habis sejak tadi. Rasanya nyaman. Alhamdulillah...alhamdulillah...alhamdulillah

Al Quran dan malaikat

Sabtu kemarin, menggantikan seorang saudari mengisi acara untuk muslimah Jepang di Masjid Otsuka. Temanya keutamaan membaca al Quran. Alhamdulillah, lagi-lagi saya beruntung. Menyiapkan materi itu, berarti bukan hanya mencari referensi untuk membuat tulisan sederhana tentang itu tapi kembali membaca ayat-ayat dan hadits-hadits yang memotivasi untuk lebih banyak membaca dan menghapal. Sebanyak huruf-huruf yang dikeluarkan lisan kita, sebanyak itu pula ia akan terlipat sepuluh. Wow...banyak sekali. Dan bisa jauuuuuuh lebih banyak, kalau kita mau. Sabtu itu di sesi tanya jawab seorang peserta bertanya, "Apakah membaca al quran adalah sebuah kewajiban?" Maksudnya, kewajiban seperti sholat. Saya menjawab tidak. Kecuali yang dibaca dalam sholat, tentu. Hukumnya sunnah. Tapi membaca al quran adalah sumber energi. Untuk memahami, untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban utama dengan optimal. Yang kalau energi itu tak ada, kita bisa 'mati'... Satu lagi adalah tentang malaikat. T...