Skip to main content

Posts

Nujuh bulan

Bunda seringkali merasa takjub melihat neng shogiroh itu duduk dengan muka serius memandangai layar TV atau komputer. Sesekali ia tersenyum sambil berkomentar. Terutama bila adegan favoritnya muncul: tokoh bubu. Iya, dia suka melihat dirinya di layar kaca. Bubu suka sekali melihat CD Kartun Anak Muslim Syaamil. Ada lagu-lagu anak muslim berbahasa Indonesia dan Inggris dengan latar cerita kartun keluarga Syaamil dan Nadia. Misalnya saja lagu bismillah, alhamdulillah, dll. Sejak usia satu bulan dia suka menontonnya. Tentu saja caranya menonton pun terlihat berkembang dari waktu ke waktu. Bunda menunggu-nunggu saat ia akan menyanyikan lagu-lagu itu. Ah, semoga dia nanti akan selalu ingat untuk membaca bismillah saat memulai sesuatu dan bersyukur atas setiap karuniaNya. Kalau dulu bubu menonton sambil berbaring, sekarang ia bisa menonton sambil duduk manis. Frekuensi olengnya sudah jauh berkurang. Di sekolah ia mulai duduk dengan bebas di lantai setelah sebelumnya hanya terlentang atau dud...

Bersamanya

Kalau kita rindu kepadanya-manusia terbaik sepanjang jaman- dan ingin bersamanya di akhir hidup kita yang panjaaaaaaaaaaaaaaang, nasihatnya pada Rabiah ini bisa dijadikan salah satu resep. Dari Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami, pelayan Rasulullah saw, berkata, "Aku pernah menginap bersama Rasulullah saw, kemudian aku membawakan air wudu untuk beliau serta kebutuhannya yang lain. Beliau bersabda, 'Mintalah kepadaku', maka aku katakan kepada beliau, 'Aku minta agar bisa bersamamu di Surga', beliau bersabda, 'Ataukah permintaan yang lain?' Aku katakan, 'Itu saja'. Beliau bersabda, 'Kalau begitu, bantulah aku atas dirimu dengan banyak bersujud (Shalat)' ." (HR Muslim). *memaknai lagi sholat-sholat sunnah...*

Kembali (nge-blog)

Ada yang mengingatkan saya tentang blog ini. Alhamdulillah. Walaupun menulis itu lebih banyak sebagai terapi pribadi, mengetahui bahwa ada kemanfaatannya untuk lebih banyak orang tentu saja sangat menyenangkan dan menyemangati. Meski efek sampinya adalah jadi kepikiran harus lebih berhati-hati dalam menulis. Uhm...kenapa ketika sadar banyak mata memandang, kita jadi berpikir tuk berhati-hati? Padahal, dilihat orang atau tidak, dibaca sendiri atau orang banyak, hisab akan tetap berjalan pada setiap huruf, setiap kata yang digoreskan. Bila baik, maka catatan kebaikan akan menjadi lebih berat. Bila buruk, sebaliknya yang terjadi. Mungkin karena saat membaca suatu tulisan akan hadir banyak interpretasi, kesalahan persepsi sebaiknya diminimalkan. Manfaatnya justru harus dimaksimalkan, menyulut serta menyalurkan energi positif bagi pembacanya. Ya, seperti yang saya dapatkan saat menelusuri catatan-catatan banyak rekan, menyerap energi kebaikan, lalu berharap bisa memantulkannya kembali. Semo...

Erm...

Tak terbayangkan sebelumnya, menulis akhir thesis-menyiapkan presentasi, diantara rumah sakit-klinik-dan apotek. Tapi berkali-kali ini diri ini diingatkan untuk senantiasa bersyukur. Bersyukur karena meski uang di saku tak ada pun, masih bisa ke dokter, masih bisa mendapatkan obat. Karena bayi/anak-anak gratis berobat disini. Membayangkan anak-anak di tempat bencana, di tempat perang... Masih bersyukur, karena banyak hiburan-hiburan sederhana yang menentramkan hati. Dikelilingi banyak saudara, yang mengangkat tangan diam-diam atau terang-terangan untuk saudaranya ini. Semoga saja, himpitan kesulitan, beserta kemudahan yang menyertainya menjadi jalan menujuNya.

Setengah tahun

Barakallah bubu, barakallah Amaturrahman Annabila Makasih yaa, atas sentuhan sayang dan pandangan mata yang menyejukkan hati, kelucuan-kelucuan yang menjadi hiburan yang tiada habis-habisnya. Bubu sudah bisa duduk sendiri meski baru dalam beberapa detik saja, sebelum terjungkal. Sudah ada beberapa variasi dalam ocehan, bahkan saat menangis pun ada mantra-mantra yang diucapkan bubu. Sudah bisa manyun. Hehe, kayak siapa? Kalau menurut baba yaaa... kayak bunda. Mestinya bubu latihan makan, tapi akhirnya latihan minum obat, karena bubu batuk-batuk, muntah-muntah, dan diare. Awalnya susah sekali, tapi lama-lama pintar juga menelan dan minum dengan sendok. Bubu juga sempat diinfus dua kali. Satu kalinya 4 jam. Yaa..butuh waktu empat jam untuk bayi menghabiskan 200mL cairan infus. Saat diinfus, sempat ditinggal bunda di rumah sakit, karena bunda harus menyerehkan thesisnya paling lambat hari itu. Bubu menangis selama lebih dari dua jam. Dan suara bubu yang nyaring pun menghilang. Untunglah pe...

Edisi tegang

Senang rasanya menulis disamping bubu yang tertidur lelap. Beberapa hari terakhir ini sulit sekali menemukan ketenangan itu. Yah, sesuatu yang pernah hilang akan sangat dicari, lalu disyukuri setelah kembali lagi. Bunda juga ingin menulis pengalaman beberapa hari terakhir, untuk senantiasa disyukuri, karena bisa dilewati, dan diambil hikmahnya. Selasa lalu, hujan turun rintik-rintik saat bunda menjemput bubu. Hari itu bubu dijemput bunda lebih telat karena bunda memerlukan perpanjangan waktu belajar di sekolah. Kamis ini tesis bunda harus sudah disetorkan. Bunda tahu perpanjangan waktu itu, meski kurang dari dua jam, tak disukai bubu. Bila hari-hari biasa bubu tampak ceria saat dijemput bunda, maka perpanjangan waktu minimal akan menyisakan sebuah garis-garis air mata di pipi bubu. Seringnya tentu saja menangis. Kasihan sekali... Betul saja, kali itu pun begitu. Bubu segera mimi lalu kami pulang. Tapi bubu menangis saat disimpan di keretanya. Menolak keras. Duh, padahal sedang hujan. P...

Kawan-kawan bubu

Beberapa kawan bubu di rumah adalah: - Ms bee, lebah pintar - Jiraf, jerapah ramah - Syaamil, snoopy periang - Najma chan, bintang kecil penyabar Sebenarnya masih ada Lulu, Gaga, Hanhan, Kura, dll. Tapi untuk sementara mereka disimpan dulu. Bukannya pilih kasih, tapi sampai saat ini kawan-kawan yang bisa berbunyi lebih cocok untuk bubu dan bubu pun sangat menyukainya. Rukun-rukun semua yaa... Sabar dan maaf kalau bubu suka sekali menjilati atau meggigiti kalian semua