Skip to main content

Jebakan maut

Adakah profesi yang aman dari jebakan maut?

Entah kapan mulanya, sejak lama, aku berpikir bahwa tak ada satupun profesi yang aman dari jebakan maut. Jebakan maut yang kumaksud adalah kesempatan melakukan penyelewengan nurani. Dari mulai yang kecil-kecil sampai besar.

Yang membedakannya hanyalah tingkat dan ruang lingkup kesempatan yang tersedia.

Misalnya saja profesi yang mulia sebagai seorang guru. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada guru-guru yang bisa dengan mudah menjual nilai dengan terang-terangan atau diam-diam, sendirian ataupun kelompok. Ada juga yang terlibat dalam kasus suap untuk masuk sekolah padahal nilai tak mencukupi.

Murid pun tak kalah hebat. Demi nilai atau memasuki sekolah bergengsi, dia bisa melakukan apa saja, dari mulai uang sampai menjual diri. Atau mencontek kecil-kecilan, sampai yang besar-besaran.

Uhm...

Comments

Anonymous said…
Saudaraku..
ingatkah dulu guru PMP kita bilang
"the man behind the gun"
jadi yang bahaya "man" atau "gun"
lalu anak-anak menjawab "gaaaannn.."
bukan..!
yang bahaya adalah "man"
walau bukan cuma "knife" atau cuma sendok yang ia pegang, tapi kalau "man"-nya rusak maka semua jadi berbahaya..!
jadilah "man" yang mengamankan diri dan masyarakat dari bahaya.
Semoga Allah melindungimu dari bahaya dan segala jebakan.

Wassalam,

Popular posts from this blog

Berhenti Sejenak

Pagi itu kami berempat (saya dan A3-A5) menuju stasiun. Baby Anas (A5) setia duduk di strolernya. Dinginnya menggigil tapi matahari menyapa dengan hangat. Tujuan kami adalah Kabe, rumah mba Nita tuk bersilaturahim dengan sahabat Azzahra. Di tengah jalan, di area favorit anak-anak untuk berhenti, Azmi (A3) tiba-tiba bertanya, "Bunda, itu tulisannya apa?" Ia menunjuk setengah bola yang biasanya mereka duduk bermain di atasnya.  Setiap melewati area ini memang mereka hampir selalu berhenti untuk bermain. Tapi pagi ini (seperti biasa) kami sedang mengejar waktu. Jadi saya menjawab sekenanya, "Engga tahu. Ayo kereta menunggu!" "Karena jauh ga keliatan? Ayo kesana!" Ah...  "Seperti ini tulisannya. Apa bacanya bunda? Tapi ini kanji bunda ga ngerti ya?" Akhirnya saya (seperti biasa, harus) mengalah. Berjongkok mengamati tulisan. Ternyata.... Tulisannya adalah "Saturn" lengkap dengan kanji di bawahnya dan angka2.... Saya lalu melihat ke sekelili...

ke odaiba

Bertiga di atas perahu Dulu...waktu kaka sedang di Maroko, saya, Ima, mamah dan keluarga kakak dari Sendai (K Zakir, K Salma, Hilyah dan Gilman) pergi ke Odaiba. Jalan-jalan terakhir Kak Salma yang akan pulang ke Makassar. Kaka 'iri berat', sehingga saya pun berjanji suatu saat akan kesana bersamanya. Alhamdulillah, di antara jadwal yang cukup padat, masih ada celah sebuah hari libur tanpa tugas dimana kami bisa pergi kesana. Dengan tiket 900 yen perorang, kami bisa naik Rinkai line, Yurikamome line, dan juga naik perahu sesukanya. Kami memilih stasiun Oimachi yang paling dekat dari rumah. Walaupun hujan turun cukup deras, perjalanan masih bisa dinikmati dengan enak.
Puzzle 48 (One Screen) Sering sih kerjasama bareng ustadz kesayangan ini dalam berbagai event. Tapi biasanya saya manggung dan beliau di belakang jadi supporter atau sebaliknya. Misalnya saya ngisi kajian dengan materi yang amat baru buat saya, beliau bantu tentir materi sebelum hari H. Beliau mengisi, saya bantu buat file presentasi. Kadang cukup supporter sederhana aja: mengamankan studio atau ruang kerja/belajar dari iklan pasukan. Hehehe   Sesekali saja kita tampil berdua dan itu terjadi cukup langka. Belum tentu setahun sekali. Baru di AHA nya Aqyla kita betul-betul manggung berdua. Dan itupun kebanyakan online dari tempat yang berbeda. Eh sekalinya barengan dalam satu ruangan moderator menutup acara sambil bilang "Assalamu alaikum wrwb."  Ada suara latar yang bilang Waalaikumussalam wrwb ya habibaty… Dan moderatornya jadi senyum-senyum sambil tersipu-sipu deh (sambil berharap itu suara latar ga kedengaran keluar, apalagi terekam) 🙈😍 MashaAllah Barakallahu fiina wa fii...