Skip to main content

Tak biasa [2]

Kemaren kecapekan juga, hingga menulis baru sepotong, tanpa ditulis 'bersambung'.

Dua jam lepas ashar, rekan tadi, muslimah jepang dengan kedua putranya kembali berpamitan pulang. Di masjid kami mulai membicarakan alternatif jalan pulang. Aku tak tahu jalur bis ke rumah. Bisa jadi butuh lebih dari tiga kali ganti.

Cara lain adalah menggunakan bis hingga beberapa stasiun, lalu menggunakan jalur kereta lain. Setelah berdiskusi, mendapatkan aneka masukan, aku dan tiga orang rekan pamit juga.

Di pintu gerbang masjid, adik kecil (putri kawanku) menangis, ternyata pup dan harus ganti pampers. Ia dan ibunya kembali sebentar ke dalam, sementara kami menunggu di luar. Saat itulah rekan lain datang sambil berbicara dengan hpnya. Di dalam masjid sinyal hp memang kurang baik tertangkap.

Ternyata rekan kami yang tadi lebih dulu pulang itu mengabarkan bahwa nyaris semua jalur kereta lumpuh. Padahal ini hampir 3 jam setelah kejadian. Bis penuh sesak sementara antrian calon penumpang tak kunjung berhenti. Taksi pun tak jauh beda.

Kami terpaku, bingung memilih, antara menunggu satu dua jam lagi di masjid, atau tetap memaksakan pergi. Akhirnya memang kami memilih tetap ke stasiun, minimal melihat lebih jelas kondisi yang ada sekaligus mencari jalan pulang.

bersambung

Comments

Popular posts from this blog

Berhenti Sejenak

Pagi itu kami berempat (saya dan A3-A5) menuju stasiun. Baby Anas (A5) setia duduk di strolernya. Dinginnya menggigil tapi matahari menyapa dengan hangat. Tujuan kami adalah Kabe, rumah mba Nita tuk bersilaturahim dengan sahabat Azzahra. Di tengah jalan, di area favorit anak-anak untuk berhenti, Azmi (A3) tiba-tiba bertanya, "Bunda, itu tulisannya apa?" Ia menunjuk setengah bola yang biasanya mereka duduk bermain di atasnya.  Setiap melewati area ini memang mereka hampir selalu berhenti untuk bermain. Tapi pagi ini (seperti biasa) kami sedang mengejar waktu. Jadi saya menjawab sekenanya, "Engga tahu. Ayo kereta menunggu!" "Karena jauh ga keliatan? Ayo kesana!" Ah...  "Seperti ini tulisannya. Apa bacanya bunda? Tapi ini kanji bunda ga ngerti ya?" Akhirnya saya (seperti biasa, harus) mengalah. Berjongkok mengamati tulisan. Ternyata.... Tulisannya adalah "Saturn" lengkap dengan kanji di bawahnya dan angka2.... Saya lalu melihat ke sekelili...

ke odaiba

Bertiga di atas perahu Dulu...waktu kaka sedang di Maroko, saya, Ima, mamah dan keluarga kakak dari Sendai (K Zakir, K Salma, Hilyah dan Gilman) pergi ke Odaiba. Jalan-jalan terakhir Kak Salma yang akan pulang ke Makassar. Kaka 'iri berat', sehingga saya pun berjanji suatu saat akan kesana bersamanya. Alhamdulillah, di antara jadwal yang cukup padat, masih ada celah sebuah hari libur tanpa tugas dimana kami bisa pergi kesana. Dengan tiket 900 yen perorang, kami bisa naik Rinkai line, Yurikamome line, dan juga naik perahu sesukanya. Kami memilih stasiun Oimachi yang paling dekat dari rumah. Walaupun hujan turun cukup deras, perjalanan masih bisa dinikmati dengan enak.
Puzzle 48 (One Screen) Sering sih kerjasama bareng ustadz kesayangan ini dalam berbagai event. Tapi biasanya saya manggung dan beliau di belakang jadi supporter atau sebaliknya. Misalnya saya ngisi kajian dengan materi yang amat baru buat saya, beliau bantu tentir materi sebelum hari H. Beliau mengisi, saya bantu buat file presentasi. Kadang cukup supporter sederhana aja: mengamankan studio atau ruang kerja/belajar dari iklan pasukan. Hehehe   Sesekali saja kita tampil berdua dan itu terjadi cukup langka. Belum tentu setahun sekali. Baru di AHA nya Aqyla kita betul-betul manggung berdua. Dan itupun kebanyakan online dari tempat yang berbeda. Eh sekalinya barengan dalam satu ruangan moderator menutup acara sambil bilang "Assalamu alaikum wrwb."  Ada suara latar yang bilang Waalaikumussalam wrwb ya habibaty… Dan moderatornya jadi senyum-senyum sambil tersipu-sipu deh (sambil berharap itu suara latar ga kedengaran keluar, apalagi terekam) 🙈😍 MashaAllah Barakallahu fiina wa fii...