Skip to main content

Di tepi zam-zam [2]

Makasih ya zubia, alhamdulillah tante sehat, dilanjutkan ceritanya yaa...

Kekritisannya pemuda belia itu pantas untuk dikagumi. Tak seorangpun mengajarinya-kecuali Allah swt-saat ia ingin mencari tahu tentang keberadaan sang Maha Pencipta. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pembuat berhala! Banyak orang pandai, yang tahu segala macam hal, tapi tak sadar akan adanya keberadaan sang Pencipta. Agama hanya dijadikan ritual dan budaya, tapi bukan dalam pemaknaan yang dalam sebagai seorang hamba.

Aku sendiri lupa sejak kapan dan bagaimana, konsep tentangNya mengendap di kepala ini. Saat aku mulai tahu, bahwa ada yang mencipta, ada yang mendengarkan pinta. Kupikir konstruksi akidah yang dibangun orang tua dan lingkungan perlahan-lahan mereka puzzle itu menjadi satu.

Tumbuh dan menemukan sendiri? Mereka puzzle sendiri?

Kemudian ia bergerak, mencoba berbuat sesuatu pada lingkungan sekitarnya. Mengingatkan sang ayah dan bahkan sang raja. Mengenalkan logika tentang 'Tuhan' yang tak bisa membela diri sendiri. Tapi selimut kejahilan itu terlalu tebal dan membutakan. Hingga apilah yang menjadi hadiah bagi pemuda cerdas dan berani itu.

Comments

Anonymous said…
Ries..pa kabar nieeh.. aku nge-link yak, dapet link ini after browsing web-nya mbak echa..

Popular posts from this blog

Berhenti Sejenak

Pagi itu kami berempat (saya dan A3-A5) menuju stasiun. Baby Anas (A5) setia duduk di strolernya. Dinginnya menggigil tapi matahari menyapa dengan hangat. Tujuan kami adalah Kabe, rumah mba Nita tuk bersilaturahim dengan sahabat Azzahra. Di tengah jalan, di area favorit anak-anak untuk berhenti, Azmi (A3) tiba-tiba bertanya, "Bunda, itu tulisannya apa?" Ia menunjuk setengah bola yang biasanya mereka duduk bermain di atasnya.  Setiap melewati area ini memang mereka hampir selalu berhenti untuk bermain. Tapi pagi ini (seperti biasa) kami sedang mengejar waktu. Jadi saya menjawab sekenanya, "Engga tahu. Ayo kereta menunggu!" "Karena jauh ga keliatan? Ayo kesana!" Ah...  "Seperti ini tulisannya. Apa bacanya bunda? Tapi ini kanji bunda ga ngerti ya?" Akhirnya saya (seperti biasa, harus) mengalah. Berjongkok mengamati tulisan. Ternyata.... Tulisannya adalah "Saturn" lengkap dengan kanji di bawahnya dan angka2.... Saya lalu melihat ke sekelili...

ke odaiba

Bertiga di atas perahu Dulu...waktu kaka sedang di Maroko, saya, Ima, mamah dan keluarga kakak dari Sendai (K Zakir, K Salma, Hilyah dan Gilman) pergi ke Odaiba. Jalan-jalan terakhir Kak Salma yang akan pulang ke Makassar. Kaka 'iri berat', sehingga saya pun berjanji suatu saat akan kesana bersamanya. Alhamdulillah, di antara jadwal yang cukup padat, masih ada celah sebuah hari libur tanpa tugas dimana kami bisa pergi kesana. Dengan tiket 900 yen perorang, kami bisa naik Rinkai line, Yurikamome line, dan juga naik perahu sesukanya. Kami memilih stasiun Oimachi yang paling dekat dari rumah. Walaupun hujan turun cukup deras, perjalanan masih bisa dinikmati dengan enak.
Puzzle 48 (One Screen) Sering sih kerjasama bareng ustadz kesayangan ini dalam berbagai event. Tapi biasanya saya manggung dan beliau di belakang jadi supporter atau sebaliknya. Misalnya saya ngisi kajian dengan materi yang amat baru buat saya, beliau bantu tentir materi sebelum hari H. Beliau mengisi, saya bantu buat file presentasi. Kadang cukup supporter sederhana aja: mengamankan studio atau ruang kerja/belajar dari iklan pasukan. Hehehe   Sesekali saja kita tampil berdua dan itu terjadi cukup langka. Belum tentu setahun sekali. Baru di AHA nya Aqyla kita betul-betul manggung berdua. Dan itupun kebanyakan online dari tempat yang berbeda. Eh sekalinya barengan dalam satu ruangan moderator menutup acara sambil bilang "Assalamu alaikum wrwb."  Ada suara latar yang bilang Waalaikumussalam wrwb ya habibaty… Dan moderatornya jadi senyum-senyum sambil tersipu-sipu deh (sambil berharap itu suara latar ga kedengaran keluar, apalagi terekam) 🙈😍 MashaAllah Barakallahu fiina wa fii...