Skip to main content

Rahasia

You have my word, dear...

Itu ucapan yang sering diungkapkan kala kita meminta seseorang berjanji pada kita untuk menjaga rahasia. Dan apa yang ada dibenakmu saat kau menitipkan rahasiamu pada seorang sahabat? Kepercaayaan. Yah...seolah separuh hidupku kau tanggungkan padanya.

Tak mudah memang bisa mempercayai orang. Saya sendiri merasa sulit sekali untuk bisa mempercayakan rahasia pada sahabat saya sendiri. Terkadang pada orang yang sudah menikah malah lebih berat, karena biasanya suami istri itu sangat terbuka. Ikatan mereka lebih kuat daripada ikatan sahabat. Mengingat keterbatasan itu, maka menyedikitkan rahasia, membiarkan banyak hal terbuka itu lebih baik, barangkali.

Namun ketika satu dari sedikit orang yang kau percaya itu ternyata menceritakan rahasiamu pada orang lain, dan kemudian kau terluka hingga trauma, apa yang harus kau lakukan?

Komaba-Tokyo, 25 Juni 2004
=terluka=

Comments

Anonymous said…
Siapapun, selama berstatus makhluk, tidak ada yang perpect. Belajar memaafkan adalah seindah-indah pelajaran. Berhusnudzan juga bisa membuat hati ini lebih tenang dan nyaman. Siapa tahu sesuatu yang awalnya membuat kita terluka pada kenyatannya justru menyelamatkan kita dari mara bahaya. Satu lagi, belajar dari keprihatinan kadang lebih berkesan daripada menikmati kesukariaan. Semoga!

Popular posts from this blog

ke odaiba

Bertiga di atas perahu Dulu...waktu kaka sedang di Maroko, saya, Ima, mamah dan keluarga kakak dari Sendai (K Zakir, K Salma, Hilyah dan Gilman) pergi ke Odaiba. Jalan-jalan terakhir Kak Salma yang akan pulang ke Makassar. Kaka 'iri berat', sehingga saya pun berjanji suatu saat akan kesana bersamanya. Alhamdulillah, di antara jadwal yang cukup padat, masih ada celah sebuah hari libur tanpa tugas dimana kami bisa pergi kesana. Dengan tiket 900 yen perorang, kami bisa naik Rinkai line, Yurikamome line, dan juga naik perahu sesukanya. Kami memilih stasiun Oimachi yang paling dekat dari rumah. Walaupun hujan turun cukup deras, perjalanan masih bisa dinikmati dengan enak.

Gaya-gaya di bulan Oktober dan November 2006

Ini sebagian gaya-gaya neng qonitat yang sempet terjepret keetai/hp bunda. Setiap kali dijepret otomatis senyumnya mengembang. Imut, bikin gemesss.

Dua Anugrah

Sabtu itu 30 Mei-seperti kebanyakan sabtu-sabtu yang lain-saya menghabiskan waktu hampir seharian di masjid. Bertemu dengan saudari-saudari untuk rapat koordinasi kegiatan masjid, belajar Islam, bercengkrama, dan makan bersama. Tak disangka, saya bertemu kembali dengan sepasang kakak-beradik dari Iraq. Pertemuan kedua setelah pertemuan pertama dalam suasana duka, saat suami sang kakak meninggal lalu dimandikan dan disholatkan di masjid ini. Kalau tak salah bulan Maret 2009 yang lalu. Subhanallah...ternyata mereka berdua diutus Allah SWT untuk menyampaikan kabar gembira: Undangan mengunjungi rumahNya yang sudah lamaaa sekali saya rindukan. Iya, setelah mengobrol kesana-kemari, saat mereka memilih-milih hijab untuk dipakai ke Tanah Suci tahun ini, saat saya meminta supaya didoakan untuk bisa pergi juga, mereka malah spontan berkata: "Come with us. We ll cover all for you..." Saya masih terbengong meski sejurus kemudian berusaha menahan tangis yang nyaris tumpah. Ya Allah...Ya R